Review Buku : Gadis Minimarket, Berusaha Menjadi Manusia "Normal"

Review Buku : Gadis Minimarket, Berusaha Menjadi Manusia "Normal"



Gadis Minimarket.

Dunia menuntut Keiko untuk menjadi normal,

walau ia tidak tahu "normal" itu seperti apa.

Namun, di minimarket, Keiko dilahirkan dengan identitas baru sebagai "pegawai minimarket."

Kini Keiko terancam dipisahkan dari dunia minimarket yang dicintainya selama ini.


Review


Setelah membaca novel Gadis minimarket, berasa kalau yang dituliskan tentang kehiduoan Keiko terlalu nyata, merinding tapi bukan horor, merinding karena keadaan masyarakat seperti itu, mungkin aku juga mengalami hal yang sama, berusaha untuk diterima dalam masyarakat karena itu berusaha keras untuk menjadi bagian masyarakat meskipun di dalam hati, keberadaanku seperti anomali.

Awalnya, aku kira karakter Keiko akan menjurus ke karekater "pembunuh berdarah dingin", karena halaman pertama menunjukan "gejala" tidak seperti manusia normal lainnya, tidak punya belas kasih, manusia tanpa emosi.

Ternyata, novel ini bukan genre horor, lebih ke slice of life. Banyak banget sentilan tentang fenomena yang ada di masyarakat.

Menurutku ketika ada sesuatu yang dianggap aneh, semua orang tanpa sungkan merasa berhak untuk ikut campur dan mereka berusaha mengungkapkan alasannya. -halaman 59. 


Menurutku, alur ini terasa lambat, karena penulis lebih detail dalam hal mendeskripsikan kehidupan Keiko, sudut pandang seorang pegawai toko. Seringnya menceritakan keseharian pegawai toko yang lambat laun membentuk karakter Keiko yang dulunya seperti manusia tanpa perasaan, tapi sekarang ia berusaha untuk meniru perilaku, gaya bicara, pakaian agar ia dianggap sembuh dan bisa diterima di masyarakat.

Ternyata suasana minimarket yang terkesan monoton, hanya ada pembeli dan penjual, kegiatan menata barang, transaksi dai kasir, diceritakan sangat menarik oleh penulis. Seolah-olah kehidupan di minimarket bisa mewakili (sebagian kecil) kehidupan masyarakat.

Minimarket seperti akuarium, di dalamnya muncul manusia yang berlalu-lalang, meskipun banyak hal yang berubah, tapi sikap manusia tidak berubah, hanya berganti cangkang saja, tapi sifat dasar manusia tidak terlalu banyak berubah.

Novel ini hanya 159halaman, lumayan tipis, bisa diselesaikan dengan segera, seringnya bertemu dengan narasi deskriptif, ada dialognya tapi tidak terlalu banyak. Penulis sering menulis menggunakan sudut pandang orang pertama, kadang muncul sudut pandang orang ketika, tapi nggak bikin bingung "lompatan" antara sudut pandang "aku" kemudian beralih ke sudut pandang orang ketiga.


Anomali di masyarakat


Di minimarket, semua dipaksa menjadi normal, dan orang sepertimu pun akan segera diperbaiki, batinku sambil mentap Shiraha yang sedang berganti baju dengan malas-malasan.


Tidak berlebihan jika minimarket dijadikan simbolis apa yang terjadi di masyarakat, karena di dalamnya ada aturan, mengenakan seragam menjadikanmu seperti manusia pada umumnya, keteraturan atau taat pada jadwal, dan sebagainya.

Menjadi pegawai minimarket, menjadikan Keiko orang normal meskipun lambat laun, Keiko tidak bisa hidup tanpa minimarket, bahkan ia tidak tahu cara bertahan hidup selain menjadi pegawai minimarket.

 Manusia hidup berkelompok meskipun orang yang berkuasalah yang akan mendominasi kelompoknya, semua harus mengikuti aturan meskipun bukan aturan tertulis, harus sesuai dengan masyarakat umum, jika kamu nampak aneh atau tidak seperti lainnya, kamu hanyalah anomali, yang selanjutnya dieliminasi dan dikucilkan.

Pernah merasa begitu?

Jika pernah, apa yang akan kamu lakukan? Tetap menjadi dirimu apa adanya, atau berusaha keras untuk berubah?


Meskipun manusia masyarakat modern bicara soal individualisme, mereka yang berbeda harus bersiap untuk dicampuri urusannya, ditekan dan akhirnya diasingkan dari desa. -halaman 91.


Selama kita memakai topeng manusia normal dan bertingkah laku sesuai panduan, kita tak akan diusir dari desa. Dan kita tak akan dianggap gangguan -halaman 94.


Meskipun penulis merupakan orang Jepang, latar belakang cerita ini merupakan masyarakat Jepang, seperti nggak ada bedanya gambaran masyarakat Jepang dengan di Indonesia. Orang lain (keluarga, sahabat, rekan kerja) sering ikut campur dengan pilihan kita. Dimulai dari urusan pekerjaan, asmara, hingga urusan anak, semau ikut campur dan harus sesuai dengan standar masyarakat.

Selain Keiko yang menjadi anomali, ada Shiraha, pegawai baru di minimarket. Meskipun ia juga anomali sama seperti Keiko, tapi Shiraha lebih ke arah sampah masyarakat, nggak banget deh kelakuan cowok yang berpenampilan kurus kering itu.

Sukanya mengeluh, berkomentar buruk tapi diri sendiri tidak mau berusaha untuk memperbaiki kehidupannya. Selalu memposisikan ia menjadi korban padahal dia tuh ngomong doang, nggak bergerak maju, sukanya dikasihani, membual, banyak utang, aduuuh hidupnya berasa kayak nggak ada gunanya. Sebel juga sih dengan karakter dia, apalagi suka membandingkan bahkan merendahkan Keiko, padahal hidupnya Shiraha lebih berantakan.

Tenang, novel gadis minimarket tidak ada romance, meskipun Keiko bertemu dengan Shiraha, tidak menjadikan ada adegan percintaan. Di sini lebih banyak kritik sosial tapi dengan 2 sudut pandang, berusaha untuk menjadi bagian masyarakat, atau hanya bisa mengkritik, membual tapi nggak ada aksi nyata kayak Shiraha.




Judul buku : Convenience store.

Penulis : Sayaka Murata

Alih bahasa : Ninuk Sulistyawati.

Editor : Karina anjani

Ilustrasi cover : Orkha.

Cetakan ketiga, Februari 2021

ISBN 9786020644394